Alhamdulillah,
Segala puja dan puji hanya untuk Allah SWT yang nikmat dan karunia Nya tidak tebilang dan salawat serta salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Kalau kita renungkan dan kita hitung2 maka nikmat dan karunia Allah itu sangatlah banyak dan tidak akan sanggup kita menghitungnya karena saking banyaknya, mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali begitu banyak nikmat yang kita terima baik yang melekat di diri kita sendiri maupun dialam sekitar kita, terutama nikmat Iman dan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Karenaya sangat pantas kita manusia ini bersyukur kepada Allah, seperti dijelaskan Alah dan Rasulnya pada ayat dan Hadist berikut:
Allah subhanahu wataala berfirman :
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim 14:7)
Dan dalam Kisah Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam :
"Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim berkata, telah
menceritakan kepada kami Mis'ar dari Ziyad berkata; aku mendengar Al
Mughirah radliallahu 'anhu berkata; "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak
pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau
menjawab: "Apakah memang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang
bersyukur?" (HR. Bukhari No. 1062 & HR. Muslim 5044).
Para ulama mengemukakan tiga cara
bersyukur kepada Allah:
Pertama,
bersyukur dengan hati. Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari
sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan
kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah
dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat
tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar
kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.
Seorang
yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka pun, boleh jadi dapat
memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu, tetapi karena terbayang olehnya bahwa
yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi.
Kedua, bersyukur
dengan ucapan. Syukur dengan ucapan adalah mengakui dengan ucapan
bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. Al-Quran mengajarkan agar pujian
kepada Allah disampaikan dengan redaksi "al-hamdulillah."
Hamd (pujian)
disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun
baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain. Kata "al" pada "al-hamdulillah"
oleh pakar-pakar bahasa disebut al
lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan".
Sehingga
kata "al-hamdu" yang
ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala
pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara
kepada-Nya.
Ketiga, bersyukur dengan
perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah
kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam
al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur,
antara lain: mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki.
Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah,
misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan
mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan
bersyukur).” (QS Aldhuha [93]: 11).
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa hakikat syukur adalah menggunakan
nikmat yang dikaruniakan oleh Allah untuk berbuat kebaikan dan ketaatan guna
mendekatkan diri kepada-Nya.
Kita juga harus memahami bahwa semua nikmat yang kita peroleh adalah karunia Allah dan hanya merupakan titipan. Allah lah pemilik sejati dari semua nikmat itu. Karena statusnya hanya titipan, sudah sepatutnya kita menggunakan titipan itu sesuai kemauan yang menitipkannya kepada kita.
(dari berbagai sumber)

No comments:
Post a Comment